Senin, 29 September 2014

Tugas 1: Penalaran, Proposisi, Inferensi, Implikasi dan Evidensi

Penalaran
1.      Pengertian
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
2.      METODE PENALARAN
Dua jenis metode penalaran yaitu penalaran deduktif dan induktif :
a.       Metode Induktif
Metode berpikir induktif adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasi pengamatan empiric dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini panalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif.
Contoh: Ani bersekolah dengan memakai seragam merah putih karena masih SD, Anton Bersekolah dengan memakai seragam merah putih karena dia masih SD.
KESIMPULAN: Semua siswa yang masih SD memakai seragam merah putih saat bersekolah.
b.      Metode Deduktif
Metode berpikir deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
3.      KESALAHAN PENALARAN
Salah nalar dapat  terjadi di dalam proses berpikir utk mengambil keputusan. Hal ini terjadi karena ada kesalahan pada cara penarikan kesimpulan. Salah nalar lebih dari kesalahan karena gagasan, struktur kalimat, dan karena dorongan emosi.
Salah nalar ada dua macam:
1. Salah nalar induktif, berupa:
(1)   Kesalahan karena generalisasi yang terlalu luas.
(2)   Kesalahan penilaian hubungan sebab-akibat.
(3)   Kesalahan analogi.

2.      Kesalahan deduktif dapat disebabkan karena :
(1) Kesalahan karena premis mayor tidak dibatasi.
(2) Kesalahan karena adanya term keempat.
(3) Kesalahan karena kesimpulan terlalu luas/tidak dibatasi.
(4) Kesalahan karena adanya 2 premis negatif.

4.       Konsep dan simbol dalam penalaran
Penalaran juga merupakan aktifitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.
Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.
Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

5.      Ciri- Ciri Penalaran
1. Dilakukan dengan sadar.
2. Didasarkan atas sesuatu yang sudah diketahui.
3. Sistematis.
4. Terarah, bertujuan.
5. Menghasilkan kesimpulan berupa pengetahuan, keputusan atau sikap yang baru.
6. Sadar tujuan.
7. Premis berupa pengalaman atau pengetahuan, bahkan teori yang telah diperoleh.
8. Pola pemikiran tertentu.
9. Sifat empiris rasional.

Proposisi
1.      Pengertian
Proposisi merupakan pernyataan dalam bentuk kalimat yang memiliki arti penuh dan utuh, serta mempunyai nilai benar atau salah, dan tidak boleh kedua-duanya. Maksud dari kedua-duanya ini adalah dalam suatu kalimat proposisi standar tidak boleh mengandung 2 pernyataan benar dan salah sekaligus. Hal ini berarti suatu kalimat harus dapat dipercaya, disangsikan, disangkal, atau dibuktikan benar tidaknya.

2.      Tiga unsur proposisi
Dalam ilmu logika, proposisi mempunyai tiga unsur yakni:

a.       Subyek, perkara yang disebutkan adalah terdiri dari orang, benda, tempat, atau perkara.
b.      Predikat adalah perkara yang dinyatakan dalam subjek.
c.       Kopula adalah kata yang menghubungkan subjek dan predikat.

3.      Jenis proposisi
Proposisi dibagi menjadi 4 jenis :
1.      Berdasarkan Bentuk:
·         Proposisi Tunggal
Contoh:
Premis 1          : Semua mahluk hidup membutuhkan air.
Premis 2          : Tumbuhan adalah mahluk hidup.
Kesimpulan     : Tumbuhan membutuhkan air.
·         Proposisi Jamak
Premis 1          : Semua orang yang ingin pintar perlu makan makanan yang bergizi dan rajin belajar.
Premis 2          : Saya ingin pintar.
Kesimpulan     : Saya perlu makan makanan yang bergizi dan rajin belajar agar pintar.


2.      Berdasarkan Sifat: kategorial dan kondisional.
·         Proposisi kategorial adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikatnya tidak mempunyai syarat apapun.
Contoh:
-          Semua bayi menangis di malam hari.
-          Setiap rumah memiliki atap
·         Proposisi kondisional dibagi menjadi 2 yaitu:
Ø  Proposisi hipotesis adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat tertentu.
Contoh:
·         Jika lampu menyala, ruangan terlihat terang.
·         Jika air dimasukkan ke kulkas maka akan terasa dingin.
Ø  Proposisi disjungtif adalah proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat tidak membutuhkan syarat tertentu.
Contoh:
·         Meja itu berwarna coklat atau hitam.
·         Kakak membaca buku pelajaran atau komik.

3.      Berdasarkan Kualitas: Afirmatif/positif dan negative.
·         Proposisi afirmatif adalah proposisi dimana predikatnya mendukung atau membenarkan subjeknya.
Contoh:
-          Semua helm dipakai di kepala.
-          Semua ayam betina berkotek.

·         Proposisi negative adalah proposisi dimana predikatnya menolak atau tidak mendukung subjeknya.
Contoh:
-          Tidak ada satupun pria yang memakai rok.
-          Tidak ada satupun mahluk hidup yang hidup kekal di dunia ini.

4.      Berdaskan Kuantitas: Universal dan spesifik/khusus.
·         Proposisi universal adalah proposisi dimana predikatnya mendukung atau mengingkari semua.
Contoh:
-          Tidak ada satupun kipas angin yang tidak mengeluarkan angin.
-          Tidak ada satupun hewan herbivora yang memakan daging.
·         Proposisi khusus/spesifik adalah proposisi yang biasanya diawali dengan kata 'sebagian'.
Contoh:
-          Sebagian karyawan di perusahaan itu adalah pekerja asing.
Inferensi
1.      Pengertian
Inferensi adalah tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis yang diketahui atau di anggap benar. Kesimpulan yang ditarik juga disebut idiomatik. Hukum acuan yang benar dipelajari dalam bidang logika.
Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).
Inferensi atau kesimpulan sering dibuat sendiri oleh pendengar atau pembicara karena dia tidak mengetahui apa makna yang sebenarnya yang dimaksudkan oleh pembicara/penulis. Karena jalan pikiran pembicara mungkin saja berbeda dengan jalan pikiran pendengar, mungkin saja kesimpulan pendengar meleset atau bahkan salah. Apabila ini terjadi maka pendengar harus membuat inferensi lagi. Inferensi terjadi jika proses yang harus dilakukan oleh pendengar atau pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat pada tuturan yang diungkapkan oleh pembicara atau penulis. Pendengar atau pembaca dituntut untuk mampu memahami informasi (maksud) pembicara atau penulis.

2.      Macam-macam inferensi
Inferensi terdiri dari tiga hal, yaitu: (Cummings, 1999).
a.       Inferensi Deduktif
Inferensi deduktif memiliki kaitan dengan makna semantik. Implikatur percakapan, pra-anggapan, dan sejumlah konsep lain memuat kegiatan inferensi. inferensi dapat diperoleh dari kaidah deduktif logika dan dari makna semantik item leksikal. Inferensi menggunakan penalaran deduksi dalam kegiatan penalaran dan interpretasi ujaran.    
Inferensi Deduktif dibagi menjadi dua, yaitu :
1.      Inferensi Langsung
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari hanya satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
Contoh 1:         
o   “Bu, besok temanku berulang tahun. Saya diundang makan malam. Tapi saya tidak punya baju baru, kadonya juga belum ada”.
Maka inferensi dari ungkapan tersebut: bahwa tidak bisa pergi ke ulang tahun temanya.
Contoh 2:
o   Pohon yang di tanam pak Budi setahun lalu hidup.
Maka dari premis tersebut dapat kita lansung menarik kesimpulan (inferensi) bahwa: pohon yang ditanam pak Budi setahun yang lalu tidak mati.


2.      Inferensi Tak Langsung
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua / lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar penggabungan proposisi-preposisi lama.
Contoh 1:
A : Anak-anak begitu gembira ketika ibu memberikan bekal makanan.
B : Sayang gudegnya agak sedikit saya bawa.
Inferensi yang menjembatani kedua ujaran tersebut misalnya (C) berikut ini.
C : Bekal yang dibawa ibu lauknya gudek komplit.
Contoh 2 :
A : Saya melihat ke dalam kamar itu.
B : Plafonnya sangat tinggi.
Sebagai missing link diberikan inferensi, misalnya:
C: kamar itu memiliki plafon

b.      Inferensi Elaboratif
Inferensi Elaboratif adalah urutan dari sederhana-ke-kompleks atau dari umum-ke-rinci, yang memiliki karakteristik khusus.
Inferensi elaboratif memiliki peran dalam interpretasi ujaran. Cummings (1999) menggambarkan adanya integrasi interpretasi ujaran dari tiga subkomponen yang berupa abstrak (pengetahuan dunia), abstrak (pengetahuan komunikatif), dan fungsional (interferensi elaboratif).
c.       Inferensi Percakapan
Dalam percakapan menuntut hadirnya komponen tutur. Jhon L. Austin (1962)  menyatakan ada tiga syarat yang harus dipenuhi dalam tuturan performatif, syarat itu disebut felicity conditions, yaitu (1) pelaku dan situasi harus sesuai, (2) tindakah dilaksanakan dengan lengkap dan benar oleh semua pelaku, dan (3) pelaku punya maksud yang sesuai.
Inferensi percakapan dapat terjadi dalam tuturan/percakapan. Grice (1975) dalam artikel ‘Logic and Conversation’ menyatakan bahwa tuturan dapat berimplikasi proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan tersebut, atau disebut implikatur percakapan. Untuk mengetahui implikatur percakapan harus diteliti meskipun dapat dipahampi secara intuitif. Argumen merupakan manifestasi proses bawah sadar secara publik dapat digunakan pendengar untuk menemukan kembali implikatur percakapan.

Implikasi
1.      Pengertian
Implikasi adalah keterlibatan atau keadaan terlibat. Implikasi berfungsi membandingkan antara hasil penelitian yang lalu dengan hasil penelitian yang baru dilakukan.

2.      Macam-macam implikasi
1.      Implikasi Teoritis
Pada bagian ini peneliti menyajikan gambar lengkap mengenai implikasi teoretikal dari penelitian ini.Bagian ini bertujuan untuk meyakinkan penguji pada mengenai kontribusi terhadap ilmu pengetahuan dalam teori-teori yang digunakan untuk memecahkan masalah penelitian, tetapi juga implikasinya bagi teori-teori yang relevan dengan bidang kajian utama yang disajikan dalam model teoretis.
2.      Implikasi Manajerial
Pada bagian ini peneliti menyajian bergagai implikasi kebijakan yang dapat dihubungkan dengan temuan-temuan yang dihasilkan dalam penelitian ini.Implikasi manajerial memberikan kontribusi praksis bagi manajemen.
3.      Implikasi Metodologi
Bagian ini bersifat opsional dan menyajikan refleksi penulis mengenai metodologi yang digunakan dalam penelitiannya.Misalnya pada bagian ini dapat disajikan penjelasan mengenai bagian-bagian metode penelitian mana yang telah dilakukan dengan sangat baik dan bagian mana yang relatif sulit serta prosedur mana yang telah dikembangkan untuk mengatasi berbagai kesulitan itu yang sebetulnya tidak digambarkan sebelumnya dalam literatur mengenai metode penelitian. Peneliti dapat menyajikan dalam bagian ini pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam penelitian lanjutan atau penelitian lainnya untuk memudahkan atau untuk meningkatkan mutu dari penelitian.

Wujud Evidensi
Pada hakikatnya evidensi adalah semua yang ada, semua kesaksian,semua informasi,atau autoritas yang dihubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur adukan dengan apa yang di kenal sebagai pernyataan atau penegasan. Dalam wujud yang paling rendah. Evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang di maksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang di peroleh dari suatu sumber tertentu.
Ø  Cara menguji data :
Data dan informasi yang di gunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap di gunakan sebagai evidensi. Di bawah ini beberapa cara yang dapat di gunakan untuk pengujian tersebut.
a.       Observasi
b.      Kesaksian
c.       Autoritas

Ø  Cara menguji fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta,maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilitian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakinan bahwa semua bahan itu adalah fakta. Kemudian pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
a.       Konsistensi
b.      Koherensi

Ø  Cara menilai autoritas
a.       Tidak Mengandung Prasangka
Tidak mengandung prasangka artinya pendapat disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli atau didasarkan pada hasil eksperimen yang dilakukannya. Pengertian tidak mengandung prasangka yaitu autoritas tidak boleh memperoleh keuntungan pribadi dari data eksperimennya.
b.      Pengalaman dan Pendidikan Autoritas
Dasar kedua menyangkut pengalaman dan pendidikan autoritas. Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal. Pendidikan yang diperoleh harus dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan sebagai seorang ahli. Pengalaman yang diperoleh autoritas, penelitian yang dilakukan, presentasi hasil penelitian dan pendapatnya akan memperkuat kedudukannya.
c.       Kemashuran dan Prestise
Faktor ketiga yang harus diperhatikan adalah meneliti apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas hanya sekedar bersembunyi dibalik kemashuran dan prestise pribadi di bidang lain. Apakah ahli menyertakan pendapatnya dengan fakta yang menyakinkan.
d.      Koherensi dengan Kemajuan
Hal keempat adalah apakah pendapat yang diberikan autoritas sejalan dengan perkembangan dan kemajuan zaman atau koheren dengan pendapat sikap terakhir dalam bidang itu. Untuk memperlihatkkan bahwa penulis benar-benar siap dengan persoalan yang tengah diargumentasikan, jangan berdasarkan pada satu autoritas saja, maka hal itu memperlihatkan bahwa penulis kurang menyiapkan diri.

Sumber:
v  http://todipermana.blogspot.com/2012/06/proposisi-premis-term-dan-penalaran.html
v  www.wikipedia.co.id

v  http://restieokti.blogspot.com/2012/03/cara-menilai-autoritas.html